Sejenak di Taman Budi dan Ilmu

Hari yang terlalu panjang,
Memaksa sekujur tubuh menjalani hidup,
Meskipun isi kepala sudah terlalu penuh,
Kaki masih mencuba untuk laju meluncur.

Di bawah lembayung yang menerangi taman budi dan ilmu,
Aku perhati manusia satu persatu,
Ada yang mampu meneruskan perjalanan,
Dan ada yang sedang bermati-matian untuk ke depan.

Memang hidup ini tidak adil ya,
Semua hal hingga sekecil apapun,
Terlalu mudah dihukum oleh manusia,
Yang laju memecut itu dianggap juara,
Yang menjadi terakhir itu dihukum lemah,
Seolah-olah hidup itu suatu perlumbaan untuk tiba di garisan penamat.

Cukup!
Memangnya kamu itu Tuhan?

Menjadi dewasa

Menjadi dewasa itu tidak mudah ya,
Waktu yang seharusnya dirayakan dengan indah,
Malah dipenuhi hal-hal yang rumit,
Memangnya hidup itu harus selalu berhasil?
Seolah-olah menjadi yang terakhir itu risi kedengarannya,
Mungkin diri kita yang terlalu lurus,
Atau fikiran dunia ini yang terlalu sibuk mengejar hal-hal luar ekspetasi.

Teruntuk Lembaran 2021

Teruntuk lembaran 2021,
Kamu terlalu berat untuk kupaut,
Semua sisi aku yang paling rapuh,
Juga kau coret lalu kau membukanya,
Saat aku melepaskan lelah,
Malah ada yang kata aku cuma beban pada mereka,
Sedangkan penat aku itu terasa bagai tiada mataharinya,
Belum usai dengan luka yang lalu,
Malah engkau datang dan membadai dengan luka baru,
Lalu harapan yang pernah aku cipta,
Akhirnya tak tercapai ekspektasi manusia.

Mungkin saja diriku selalu kelihatan utuh di luar,
Namun di dalamnya aku sudah hancur sehancurnya,
Walhal disaat aku rentan juga,
aku harus menguntumkan senyuman,
Yang akhirnya aku sendiri patah hati,
Prinsip hidup ku cukup mudah
Cuma saja wujud manusia yang suka memanipulasi hal hal kehidupan,
Agar diri mereka terlihat seperti mangsa setiap keadaan.

Belum lagi aku buka balutan luka ku yang terdalam,
Yang ku terima dari orang-orang yang datangnya sekadar bercanda,
Ya sudahlah,
Lembaran ini sudah terlalu sakit untuk ku cerita,
Ia terlalu penuh dengan ruang kecewa,
Yang mungkin saja ia menjadi alasan untuk aku bertumbuh,
Juga wadah penuh teladan untuk diriku yang beranjak dewasa,

Dan lembaran baharu yang bakal ku jumpa,
Semoga kamu baik-baik saja ya.

Kata Ayah

Kamu adalah figura yang cukup aku kagumi,

Namun rasa itu hanya mampu ku biar ia terbang di awang awangan,

Seperti sang ayah pernah berkata:

"Usah meletakkan sesuatu hal yang belum kamu pasti itu di tangga yang tertinggi,

Kerana takut nanti yang sakit bukan sekadar hati, tapi batin mu juga bisa mati."

Wonder

I put that soul in every inch of my heart,
To make sure you are secure in each angle of my eyes,
Wonder why you keep wanna to be unhand,
Is it that place couldn't suit your best?
Or it is my bad as this heart couldn't make you feel content?

Aneh

Caramu itu aneh
Semalam kamu hadiahkan aku
pelangi di hujung senja,
Tapi sebentar tadi,
kamu tinggalkan aku pada malam yang temaram.

Jika begitu apa yang harus aku percaya?
Janji yang dilontarkan tiada ampuhnya,
Merempuh segala damai yang tersisa,
Apa sudah tiba waktu untukku berlabuh jauh dari rumahmu?

Memberi-

tatapan kosong ke arah matahari,
menembusi cahayanya yang membawa refleksi,
berbisik lirih pada hati,
"kau tak perlu memberi lagi dan lagi".

separuh nyawa kau memberi,
hingga lupa dirimu juga perlu diisi,
jiwa yang pada awalnya sempurna,
kini kosong menjadi ruang hampa.

setiap hela nafas yang hening,
perlahan-lahan ia mengikis,
membawa satu persatu bahagia pergi,
meninggalkan luka dan kudis.

Memory —

It is pricking my memory,
You left me with peculiar look,
Make me ponder with doubt,
The past keep scratching inside,
I lost when you pilling up on the guilt,
Your insistence to end it down,
I was tongue-tied to speak up.

All the distant memories,
wouldn't be allowed to elude,
Keep hanging there,
Just play it cool,
But deep inside,
It was full of wounds.

Pena dan Kertas

Di saat kenangan datang bertandang,
Yang isinya hanya dipenuhi luka dan dendam,
Aku cuba pura-pura bahagia,
Namun setiap hela nafas aku terlihat cemas,
Terasa semuanya tiba-tiba menyesakkan.

Ku ambil pena dan kertas,
Melepaskan rasa yang tidak terbatas,
Kalimat yang terlihat sederhana bagi mereka,
Namun jauh bermakna bagiku.

Mei —

Mei,
Ke atas langit aku cuba memerhati,
Untuk ku fahami apa itu terbang tinggi,
Tanpa beban terasa di pojok hati.

Namun siapa sangka,
Untuk berlayar di pertengahan saja,
Aku sudah mulai patah,
Mengatur alasan terasa bagai lumrah,
Sedangkan diri mampu merubah,
Mengurangkan kabut dalam mencari arah.

Begitu juga aku terus mencuba,
menghabiskan semua sisa beban yang ada,
Agar semuanya indah dipenghujungnya.
Dipertemukan pelangi nan indah,
Setelah menempuh segala lelah.

Keliru-

Langit yang kita tatap hari ini mungkin sama,
Tapi gumpalan awan membawa makna berbeza,
Di sana mungkin pelangi menjadi seri,
Di sini masih lagi gerimis tak berhenti,
Berteriak akan hausnya sebuah kejujuran,
Bernafas dalam gemuruh dan ketidakpastian.

Kau berjanji kepadaku itu dan ini,
Namun kau hilang di saat rintik hujan mulai pergi,
Lantas hanya aku berjuang seorang diri.

Cantik

Seiring waktu berlalu,
Daunku yang hijau berkilau,
Juga akhirnya kering kekuningan,
Yang dulu katanya,
"Ah, aku yang tercantik dibanding mereka"

Ternyata sesuatu yang cantik itu,
bisa hilang dimamah waktu,
Malah daunku hanya menunggu detik,
Untuk gugur jatuh ke bumi,
Dan yang lebih parah,
Menunggu disapu dan dibakar.

Yang katanya cantik itu cuma sementara,
Hidup bukan untuk kau membandingi,
Malah untuk kau mengapresiasi,
Bersyukur,
Kerana tidak semua memiliki apa yang kau ada,
Bersyukur,
Kerana yang indah indah itu,
datangnya seperti penghujung senja,
Tanpa kau sedar ia lenyap sekelip mata.

Insane —

Seeking for sanity,
In the dark tunnel.

But look what i found there,
My fear,
Anxiety,
Imminent danger,
Keep me distracted.

Wrong way,
Wrong choice,
Wrong decision,
Face the consequences.

Mungkin —

Sebenarnya apa yang ku kejar,
Sesuatu yang ku rasa dekat,
Ternyata ia jauh,
Sejauh matahari di atas sana,
Terasa usaha ku sudah sehabis mungkin,
Namun hasilnya layak ditangisi,
Apa mungkin usahaku kurang sakit,
Atau anganku yang terlalu tinggi?
Mungkin juga bahuku,
Ditekan dengan pengharapan yang terlalu banyak,
Hingga terasa diri ini terlalu lemah untuk bangkit.

OH HEY, FOR BEST VIEWING, YOU'LL NEED TO TURN YOUR PHONE