Journey JWP

Profil Singkat

Nama :
Jan Wardani Perobahenta Perangin Angin (JWP)

Nama Panggilan :
Dani/ Jan Wardani

Tempat, Tanggal Lahir :
Surabaya, 08 Januari 2000

Alamat :
Wengga Palam Indah 1 Blok. A No.7 Banjarbaru

Riwayat Pendidikan :
-TK Segar Cisalak, Depok
-SDK Sanjaya, Banjarbaru
-SMPK Sanjaya, Banjarbaru
-SMAK Stella Maris, Surabaya

Pekerjaan:
Politisi

Nomor Telepon:
089670284928

POLITIK DAN SAKIT HATI

Cerita Jan Wardani Perangin Angin

Saya sangat senang melihat perkembangan politik baik tingkat daerah maupun nasional. Bagi saya politik itu adalah ilmu yang penerapannya bisa dimana saja. Namun 2018 saya sakit hati dengan pemerintahan yang ada. Berawal dari rasa kekecewaan ketika tidak bisa melanjutkan pendidikan untuk kuliah, dan merasa tidak hadirnya negara kepada masyarakat. Karna tidak ada program yang mengakomodir warganya menurut saya saat itu.

Saya merasakan bagaimana sulitnya keluarga kami ketika itu berobat , terlebih ketika Ibu saya mengalami kecelakaan. Pelayanan yang sangat lamban fasilitas kesehatan yang sangat buruk. Hal itu yang membuat saya mencaritahu akar masalah dari semuanya. Hasil dari analisa yang saya buat adalah birokrasi. Birokrasi yang ada harus diperbaiki namun perlu diketahui di atasnya ada posisi-posisi politik. Posisi inilah yang bisa mengatur seluruh sistem birokrasi dibawahnya.

Posisi politik di Indonesia dibagi jadi tiga yaitu Eksekutif sebagai pelaksana , Legislatif sebagai pembuat aturan, dan Yudikatif sebagai pengawas setiap aturan yang ada. Bilamana posisi-posisi itu dipegang oleh orang-orang baik dan kompeten maka kebijakan yang keluar adalah kebijakan-kebijakan yang baik. Namun akan berbeda bila posisi-posisi itu dipegang oleh orang-orang yang hanya memikirkan diri sendiri atau kelompoknya saja, maka semua kebijakannya hanyalah untuk kepentingan mereka. Sekalipun ada yang dia memberi bantuan berupa beras, baju, bahkan uang saat mendekati pemilihan bukan berarti mereka adalah orang baik. Karna untuk menduduki posisi-posisi itu harus dipilih langsung oleh warga masyarakat terkecuali kedudukan di Yudikatif.

Pemberian ini sudah pasti tujuannya membangun opini masyarakat melihat mereka hadir bagi masyarakat. Ini adalah modus dari kebanyakan pejabat publik atau calon pejabat publik yang membuat banyak rakyat lupa bahwa sebenarnya pejabat publik bukan tentang sebagai penyalur bantuan. Pejabat publik adalah orang yang luar biasa dan berkompeten yang bisa membuat dan menjalankan sebuah regulasi atau aturan dan kebijakan sesuai kebutuhan masyarakat. Itulah mengapa Iwan Fals berkata "Manusia setengah dewa".

Harapan saya kedepan warga masyarakat lebih cermat dalam berpolitik, khususnya dalam menentukan wakilnya di legislatif yaitu DPR/D atau DPD. Karna hampir semua dirumuskan dan dipikirkan di legislatif. Sebagai mahasiswa ilmu hukum saya juga sadar bahwa hukum di Indonesia masih jauh dari kata adil. Hal ini terjadi karna lemahnya fungsi legislatif kita di negri ini. Itulah mengapa politik dan hukum erat kaitannya. Tentunya lemahnya fungsi legislatif ini di dasari karena bayanyak anggota legislatif kita yang tidak ber kompeten dan profesional dalam bekerja. Jadi jangan salahkan pemerintah yang ada bilamana banyak kebijakan yang tidak sesuai kebutuhan publik. Justru masyarakat lah yang harus gencar di beri edukasi politik. Agar posisi-posisi politik tadi di duduki oleh orang yang bertanggung jawab dan berkompeten.

Pada tahun 2019 saya memutuskan untuk bergabung dengan partai politik, saya memilih PSI sebagai wadah bagi saya. Hal ini karena saya melihat PSI tidak fokus terhadap citraan, tetapi edukasi politik yang benar tehadap warga Indonesia. Harapan saya sebagai anggota saya dapat melihat politik dari sudut pandang yang dekat dan jelas.
July 2020 saya terkena PHK masal oleh tempat saya bekerja karena dampak dari pandemic covid-19, saat itulah untuk mengisi kegiatan sehari-hari maka saya mulai aktif dalam kegiatan PSI. Saya menjadi bagian tim pemenangan Cawali Surabaya Eri-Armuji di tim kampanye internal PSI. Saat itulah saya melihat politik secara kompleks.

Ketika itu saya bangga karna tugas politik pertama saya berjalan lancar. Pada Januari 2021 saya dipercaya menjaga kantong suara PSI Kota Surabaya di Dukuh Pakis. Saya diangkat sebagai Ketua DPC PSI Dukuh Pakis ketika berusia 20 tahun. Walau usia saya muda bukan berarti tidak bisa menjalankan tugas. Sebagai ketua DPC termuda di Kota Surabaya tentunya ada kebanggan tersendiri bagi saya pribadi dan mulai mengerjakan pekerjaan-pekerjaan politik saya.

Pekerjaan politik yang saya lakukan adalah perekrutan anggota dan memberi edukasi politik bagi masyarakat. Tidaklah mudah dalam melakukan perekrutan anggota, karna memang jujur banyak bertanya apa yang mereka dapatkan dalam PSI dan saya selalu menjelaskan visi-misi PSI. Belum lagi pertanyaan " Apakah ada uangnya?" saya langsung menjawab " Kita mencari anggota untuk berorganisasi politik, bukan mencari pegawai untuk kerja".

Jujur di Indonesia kalau berbicara politik masih sangat banyak yang menghindar karna rata-rata berasumsi politik itu kotor. Namun pertanyaannya bila kita mengetahui rumah kita kotor apakah kita hanya diam membiarkannya kotor? akankah kita nyaman bila harus tinggal di rumah yang kotor?. Maka yang harus dilakukan bukan hanya menjadi pengamat dan komentator. Kita harus mulai berproses di dalamnya dan mulai membersihkannya. Ada banyak orang baik di negri ini, tetapi sedikit yang mau membangun bangsa. Sebagai pengurus partai saya sedih menghadapinya, tetapi sebagi anak muda yang cinta Indonesia saya harus optimis dan melakukan sebuah aksi nyata. Memang upaya bersih-bersih ini memerlukan proses dan tenaga tetapi bila kita lakukan dengan gotong royong pasti tidak akan terasa.

Dalam berpolitik saya banyak belajar dari seorang mentor yang luarbiasa. Walau hanya sebagai Anggota DPRD Kota Surabaya dan Kepala Bamperda Kota Surabaya beliau memberi banyak pembelajaran seputar politik dan menunjukkan tidak semua politik itu kotor. Belum lagi dia selalu mengatakan "Jangan membodohi warga hanya untuk ambisi menduduki sebuah posisi dan pencitraan yang mengesampingkan hati nurani." Beliau adalah Bro Josiah Michael. Beliau seperti Bapak dalam perpolitikan saya. Beliau selalu menasehati dan memberi pebelajaran-pembelajaran baru.

Jadi kalau ada yang bilang politik adalah untuk orang tua tentunya itu salah, saya 20 tahun bisa menjadi seorang Ketua DPC. Politik tidak selalu tentang uang, politik adalah tentang cara dalam merebut sebuah kekuasaan. Tetapi bagaimana kekuasaan itu dipergunakan. Saya sudah membuktikan saya bukan orang yang memiliki duit lebih, karna saya hidup benar-benar pas dan cukup namun bisa untuk terlibat dalam kegiatan-kegiatan politik. Justru saya pribadi berharap akan mucul bibit-bibit pemimpin yang berkualitas kedepannya. Karena mengingat 2024 pemilihnya 50% lebih adalah generasi muda. Artinya kebijakan yang dibuat akan sangat sering bersentuhan langsung dengan anak-anak muda yang ada. Mari kita berhenti hanya sebagai komentator dan pengamat, kita harus sudah mulai bekerja dan bergerak membuat aksinyata untuk menjadikan rumah kita nyaman di huni.

Kemanapun kita pergi pasti akan tetap pulang kerumah. Negara tanpa Korupsi masyarakat sejahtera hanyalah omong kosong bila kekuasaan politik masih dipegang orang-orang tidak bertanggung jawab dan kompeten. Memang semua perlu proses, namun jangan pernah berhenti optimis dalam membangun bangsa ini. Inilah bagian dari cerita Politik dan Sakit Hati.

Instagram
OH HEY, FOR BEST VIEWING, YOU'LL NEED TO TURN YOUR PHONE