as a home —
dimana rumah, dimana kamu?
(bukan) bukan sebuah bangunan yang Hangat,
yang setiap langkah akan ada yang menyambutmu dengan senyum lebar.
meski sudah berniat utk beristirahat,
niat itu kini runtuh oleh kebisingan dari dalam.
(bukan) bukan sebidang bahu yang hangat memeluk,
kadang dibiarkan saja luka sengaja tak dibasuh
kadang luka dirawat dengan harapan lekas sembuh
maka dari itu lepaskan rantai pertengkaran yg sulit,
memeluk banyak sekali trauma
luka itu, amarah itu, percobaan percobaan berpisah itu.
jauh dari itu, telapak tanganmu sudah tak lagi menutup mataku.
menutup mataku dari segala hal yg menakutkan itu
kita menjalani semua tanpa tuntutan
kita menjalani perlahan, terlewat, dan mengikis waktu dengan penuh makna.
(bukan) bukan kelopak mata teduh yang menatap.
terkadang komposisi luka nya terlalu berat,
kadang pertanyaan yang terlontar dari mulutmu juga tidak masuk akal.
“ini sakit ya untuk dijalankan?”
apa luka yg menganga itu tak puas utk menjawab?
(bukan) bukan perpisahan yang dibutuhkan.
segala trauma dan kepahitan sengaja ku bawa diatas telapak tangan,
membawa nya ke depan mata teduhmu
dengan harapan rumah kita,
bangunan yang hangat itu masih terasa
setelah semua berhasil ku kalahkan,
aku paham dimana rumah dan dimana kamu
bukan hanya mata teduh milikmu yang slalu kubicara kan itu,
tapi seisi rumah
ketakutan, tangisan, kekosongan
semua runyam ketika kita masuk bersamaan.
bahkan belum sempat ku bereskan yang berantakan,
aku sudah tenggelam dalam pelukan.