Let's Talk

Waktu akan menjawab keingintahuan, mengubah tawa menjadi luka dan luka menjadi tawa

About

Du traust dich ja nicht

Terkadang celotehan manusia akan menjadi berguna bagi manusia lainnya disaat tengah menghadapi persoalan yang sama. Yang perlu diingat adalah permasahan yang sama tak selamanya dapat diselesaikan dengan solusi yang sama :). Intinya "tetap gunakan isi kepala anda"

"Tumbuhlah wahai jiwa kerdil"

ANTARA BALITA DAN REMAJA

Ia hanyalah seorang anak perempuan yang lahir dan tumbuh dari keluarga yang begitu menyayanginya. Katanya, ia adalah perempuan kecil yang bandel dengan semua mainan baru yang diberikan ayah dan keluarga lainnya. Hampir setiap bulan ia mendapat mainan terbaru yang bahkan ia sendiri belum bisa memainkannya. Ayahnya selalu berkata, "masa kecilmu adalah masa paling menyenangkan dengan semua limpahan kasih sayang anggota keluarga".

Usianya menginjak 3 tahun dan ibunya melahirkan seorang anak perempuan yang katanya adiknya. Pikirnya kala itu masih mengambang bahkan ia tak tahu apa makna kata adik, apa arti kelahiran, acara apa yang sedang berlangsung di rumah, yang ia tahu ialah begitu asiknya bermain air hujan berbalut sweater merah muda pemberian kakeknya.

Waktu terus berjalan, anak perempuan itu tak lagi menjadi balita. Usianya mulai menginjak 5-6 tahun dan menduduki bangku TK. Banyak yang berkata ia adalah salah satu murid pintar namun tak pernah menang mengikuti perlombaan. Ini adalah permulaan hidup baginya. Meskipun tidak mengingat persis apa yang ia lakukan di usianya, ia mengingat beberapa hal dalam hidupnya.

Kala itu ayahnya hanya mampu tidur dengan posisi layaknya seseorang yang sedang duduk diatas kasur dengan besi terikat sebagai penyangga punggungnya. Katanya, ayahnya dipukulin manusia-manusia brengsek yang main hakim sendiri sebelum memastikan siapa yang bersalah sebenarnya. Biasalah, permainan politik siapayang tahu?
Ibunya membawanya lari ke rumah salah seorang saudara ayahnya hingga suasana kembali tenang. Waktu kemudian menjawabnya, hingga kini ayahnya tak pernah terbukti melakukan kesalahan namun tetap saja pengeroyokan (satu banding lautan manusia di lapangan) itu tetap membekas dan membuat ayahnya tampak seperti robot berjalan. "Yasudahlah, begitulah kerasnya hidup manusia di dunia" pasrah keluarganya.

Waktu memang memang menjawab namun tetap saja terlalu egois, ia bahkan tak mau berhenti sejenak menunggu ayahnya kembali pulih dan bekerja kembali. Ibunya kemudian bekerja di pabrik dan ayahnya bekerja sebagai buruh disalah satu usaha tetangga. Kedaan ini seakan-akan memaksa semua anggota keluarganya untuk mampu berjuang masing-masing demi keutuhan keluarga.

Setiap pagi, ia akan dimandikan oleh neneknya dan kemudian berpamitan dengan ayahnya ditempat kerjanya. Ia juga hanya bisa bertemu ibunya seminggu sekali ketika malam minggu tiba dan senin paginya ibunya harus berangkat kembali bekerja tanpa pulang ke rumahnya. Disetiap jam 03.00 WIB malam minggu, ayahnya akan menjemput ibunya dari pabrik dan ia berada dirumah hanya dengan adiknya yang berusia 3-4 tahun sembari menunggu wanita hebat yang sangat mereka cintai.

Waktupun berlalu, ia sudah duduk di bangku Sekolah Dasar dan ibunya memilih untuk bekerja dirumah menjadi seorang penjahit. Keadaan ayahnya masihlah sama, belum mampu bekerja penuh dan terus menjalani upaya penyembuhan.
Sebenarnya ia belum terlalu paham dengan apa yang ia hadapi kala itu. Ia hanya mengerjakan apapun yang diminta ibu atau ayahnya untuk dilakukan. Aktivitas pagi hingga siang ia habiskan di sekolah bersama teman-temannya. Kemudian pada sore hari ia menimba air sumur untuk mandi keluarganya dan mencari kayu bakar sisa kegiatan mebel didepan rumahnya untuk memasak. Katanya, ia dulu sangat pintar memasak dengan bermodalkan resep yang dituliskan ibunya. Anak sekecil itu bermain api untuk mengisi perut ibu dan ayahnya yang tengah sibuk mencari penghidupan untuknya.

Ia tumbuh menjadi anak periang dengan senyum yang selalu terlukis di wajah lugunya. Ayah dan ibunya selalu mengajarkan kepadanya untuk tidak berbicara kasar, selalu jujur, dan mencoba memaknai hidup ditengah keterpurukan. Meskipun beberapa kali keluarganya berada diujung tanduk dan ia sempat akan diberikan kepada saudara ibunya sebagai anak angkatnya. Namun begitulah hidup, tetap saja tidak ada yang dapat disalahkan untuk setiap detik yang menghidupkan jiwa kerdil anak perempuan yang entah bagaimana penyebutan bagi usia antara balita atau remaja.

HANYA KARENA AKU HIDUP

ANTARA KERASNYA DUNIA ATAU AKU YANG TAK MAU BERKOMPROMI DENGANNYA

Hari itu hujan lebat menyelimuti setiap sudut kota ditengah perselisihan remaja perempuan dan ayahnya. Hal itu merupakan hal biasa, kata sebagian besar orang terutama yang masih meyakini "weton" dalam kepercayaan jawa. Semua anak yang memiliki hari kelahiran yang sama dengan orang tuanya akan selalu beradu mulut hingga hanya waktu yang akan menjawab akhir pertengkaran itu.

Katanya, untuk mencegah itu harusnya remaja perempuan itu dibuang terlebih dahulu semasa balita. Kemudian ia akan ditemukan seseorang untuk menjadi ibu angkatnya dan dikembalikan ke orang tua kandungnya.

"Halah..." potong remaja perempuan itu sembari meyakinkan bahwa dirinya juga pernah diperlakukan hal yang sama namun cek-cok itu tetap menjadi bagian dari hidupnya.

Benar, ia memiliki ibu angkat yang hingga kini terus berkata kalau beliau juga ibunya. Sepertinya banyak hal yang terjadi dalam hidupnya padahal usianya baru menginjak remaja.

Dalam marahnya, ayahnya pernah berkata bahwa dirinya bukan anaknya. Hal ini tentu membuatnya terus berfikir namun ibunya selalu meyakinkan bahwa itu hanyalah sebuah luapan amarah biasa. Tapi hal ini sudah menjadi hal biasa baginya, menjadi bahan olok-olokan ketika sedang bertengkar dengan adiknya. Atau menjadi candaan ketika kami sedang berkumpul di ruang keluarga sembari menonton televisi dan ayahnya bercerita tentang semua mantannya.

Semua hal itu tiba-tiba terfikirkan kembali oleh seorang mahasiswi dibalkon kampus sembari melihat aliran air hujan yang membelai lembut setiap benda yang dilaluinya. Dalam lamunnya, ia seperti mengulas balik semua hal yang pernah terjadi dalam prosesnya menuju dewasa. Padahal tak lagi itu terjadi dan hidupnya kembali ke titik dimana ia bahagia. Perasaan tetaplah perasaan yang logikapun tak mampu membendungnya.

Ia sangat mencintai sosok yang selalu beradu mulut dengannya itu. Sosok yang terus bekerja ditengah leher dan punggung yang kaku bahkan menolehpun tak bisa. Sosok yang sangat keras bahkan mungkin sering menyayat hatinya. Sosok yang bahkan hampir tak pernah bicara dengannya selama hidup bersama kecuali beradu mulut akibat mitos weton katanya. Namun sosok itu juga yang menjadi pendorong untuknya kembali bersemangat mewujudkan keinginannya dan bangkit ketika sedang merasa terpuruk jatuh mengejar fana-nya kehidupan dunia.

Ia tak pernah merasa tertekan dengan semua tanggung jawab yang memang sudah diberikan oleh ibu dan ayahnya. Terlepas dari usianya dan statusnya yang belum bisa berbuat apa-apa, hanya janji dan ucapan "iya" untuk menenangkan hati kedua orang tuanya.

Ternyata, masa peng"ujian" itu tiba dengan cepat tak lama dari ia mengucapkan kata "iya". Ia harus memilih, perpisahan dan meninggalkan kuliah atau mempertahankan keretakan dan berusaha menjaganya. Meskipun hal ini bukanlah kewenangan dirinya, namun keputusan berada ditangannya kala itu. Ia memilih perpisahan dan bersiap meninggalkan dunia perkuliahan. Bukan tanpa berpikir panjang, ia menghabiskan setiap pagi, siang dan malamnya untuk berpikir kemana ia harus lari kali ini. Ia juga berpikir rumah mana yang dapat ditinggali dengan kedua adiknya yang menjadi tanggung jawabnya. Ia bersyukur karena semua kembali seperti semula dan masalah diselesaikan dengan semua janji yang terucap.

Kejadian itu membuatnya sangat berhati-hati untuk mengambil semua tawaran tanggung jawab yang diberikan kepadanya. Ia sadar bahwa dirinya akan terlihat dangat egois dan mementingkan diri sendiri.

"Hanya aku yang mampu menyelamatkan diriku, bukan sahabat, teman, atau saudara sekalipun" ucapnya dalam hati sembari memikirkan langkah untuk menghindari kemungkinan terburuk yang mungkin akan terjadi.

Namun ia semakin tertekan dengan akibat semua hal yang ia dengar tentang dirinya. Tanpa disadari ia menjadi seseorang tanpa belas kasihan terhadap orang yang dianggapnya tak sesuai dengan jalan pikirnya. Ia berubah menjadi orang yang dingin terutama bagi orang yang sok tau tentang dirinya. Disisi lain ia juga sadar bahwa semakin lama ia tak mampu mengendalikan emosi dirinya. Akhirnya ia mencoba berkonsultasi dengan ahlinya melalui media elektronik. Ia terlalu takut menangis dihadapan orang sembari bercerita yang pastinya itu sama sekali tidak penting untuk dirinya.

Akhirnya ia menemukan bahwa tak semua hal akan terus berakhir bahagia. Ia belajar berkompromi dengan diri sendiri, memikirkan tanggung jawab mana yang mampu ia lakukan, dan menangis tidak selamanya menandakan kita kalah dengan keadaan. Hanya saja ia perlu waktu 10 menit memberikan kesempatan kepada air mata untuk membelai pipi dan menenangkan sebagai bentuk penyesuaian dari kabar yang kurang menyenangkan.

HANYA KARENA NAMANYA "HIDUP"

Perasa yang tak mengenal rasa

Malam itu pukul 21.00 WIB, wanita itu berjalan menyusuri trotoar bak raga kosong tak berjiwa. Ia hanya membutuhkan ketenangan yang selalu ia dapatkan ditengah riuhnya suara kendaraan yang berlalu lalang dengan sorotan lampu yang terkadang memperlihatkan raganya pada dunia. Rutinitas yang terus dilakukan dikala ia merasa sendiri menjelajah masa lalu yang tersimpan rapat di titik terdalam isi kepalanya. Satu jam cukup baginya untuk membuka kembali yang disebut manusia sebagai "luka".

Diusianya yang menginjak 18 tahun, hanya ada dua sosok pria yang mampir dalam hidupnya. Pria yang mengenalkan agama melalui lantunan adzan ditelinganya 21 tahun silam namun tak pernah bertegur sapa. Dan pria yang mencoba memberi tahu makna "cinta" namun hanya waktu yang mampu menjawabnya mengapa ia berhenti melakukannya. Wanita itu haus kasih sayang seorang pria.

"HAHAAHAHA JALANG!" pekiknya dalam hati setiap luka itu kembali terbuka.

Ia tak membenci pria-pria itu, rindunya semakin bertambah ketika ia membuka ruang terdalam itu. Sedalam apapun luka yang terkubur diruang hatinya, lebih dalam rindu yang menancap dalam keluar dari raga.

Ia memanglah bukan perasa, hanya seorang yang tak cukup peduli dengan dunia. Ia hidup selayaknya mati dan berdiri selayaknya zombi namun ia terlihat bak manusia akibat topeng riang dan sedihnya. Ia akan tertawa bersama teman-teman seusianya menanggalkan kematian dalam sejenak. Besar harapannya tak ada lagi kata "sejenak" namun "selamanya". Ia menangis hanya ketika seorang membentaknya karena luka itu kembali muncul selayaknya berkata, "Hidupmu hanyalah untuk melihat semua ini. Cepat menangislah agar kamu terlihat hidup". Kemudian ia menangis dihadapan semua temannya dan begitu seterusnya.

Satu hal yang terus ia cari, manusia kaku yang sering ia lihat apakah juga merasakan hal yang sama. Dalam hatinya ia selalu berkata, "jika sisa 'kehidupan' yang masih aku punya akan mengisi ruang kebahagiaan untuknya, maka akan aku berikan. Setidaknya ada orang satu orang yang hidup dibandingkan aku terus melihat zombi hidup yang seperti sedang mengejek diriku kalo aku terlihat sepertinya".

Usianya terus menandakan bahwa dia adalah seorang manusia yang hidup dan harus mengikuti alur cerita yang telah tertulis untuknya. Alur itu seperti air, tenang, mengalir, membawanya ke hilir, bertemu pantai, beradu dengan ombak, dan "byuurrrrr...." menjadi buih lalu menghilang.

"Selamat... Akhirnya" ucapnya lirih sembari tersenyum melihat mata yang terus mengawasinya

Ideologi Terbentur Realita

Katanya Sih Komitmen

Malam itu tepat diusianya yang menginjak 23 tahun, wanita itu tengah duduk di pelataran rumah kontrakannya. Ia hanya melihat setiap kendaraan berlalu lalang seperti yang ia lakukan selama masa perkuliahan. Benar, wanita itu sudah lulus tanpa gelar "cumlaude" padahal IPK cumlaude. Awalnya iya insecure dengan keadaannya namun ia membuktikan dan dirinya bekerja ditempat yang ia sangat inginkan sejak pertama memasuki bangku perkuliahan.

Lamunnya melayang memikirkan perkataan om-nya tentang usia dan rencana pernikahannya. Katanya, diusianya yang tak lagi dapat dianggap remaja harus memikirkan pernikahan dan hubungan keluarga. Hal itu tentu mengganggu sekali bagi seorang wanita yang tak pernah berniat menjalin komitmen apalagi membangun keluarga. Ia bahagia dengan kehidupannya, mampu memboyong adiknya meskipun status tempat tinggalnya masih sebatas "rumah kontrakan". Eits, jangan salah ia sedang membangun rumah yang beberapa bulan lagi dapat ia tinggali dengan adiknya.

"Kenapa isi kepala semua orang hanyalah pernikahan dan ranjang" celetuknya setiap ia kesal memikirkan setiap pertanyaan seseorang tentang hubungan.

Ia memanglah hanya wanita biasa yang tengah bahagia dengan kesendiriannya. Namun masa lalunya mempertemukan dan memperlihatkan kepada dirinya bahwa menjalin hubungan bukanlah semudah mempersilahkan seseorang untuk memasuki rumah dan menyuguhinya makanan.

"Bagaimana dengan besok? Ia harus mengurus orang lain disaat dirinya sendiri saja malas untuk melakukan sesuatu diluar pekerjaannya. Bagaimana dengan menyewa asisten? Mahal." Pikiran-pikiran yang terus mengitari otaknya dan mematahkan stigma masyarakat yang terus mengatakan menjalin hubungan itu menyenangkan.

Bukan tak beralasan, begitu banyak pasangan-pasangan yang ia lihat harus berpisah karena sulit menyatukan dua kepribadian. Bahkan tak sedikit yang menghancurkan kehidupan anak kecil demi ego yang sangatlah menjijikkan.

"Bukankah seorang anak juga tak pernah berharap untuk lahir dari rahim seorang ibu dan ayah yang berniat untuk mengacaukan kehidupannya dimasa mendatang?" Pungkasnya terus-terusan

Ia sadar mungkin hal ini terjadi hanya karena belum ada seseorang yang meyakinkannya bahwa hubungan tak selalu berakhir tragis dengan ditinggalkan. Namun ia lebih menyadari kebebasan adalah hak yang perlu diagung-agungkan dan dinikmati tanpa hirauan. Terlebih ia pernah gagal menjalin sebuah hubungan meskipun hanya sebatas pacaran. Tapi hal itu yang justru menguatkan pendiriannya untuk tak hidup dibawah komitmen dan berusaha memahami seseorang.

OH HEY, FOR BEST VIEWING, YOU'LL NEED TO TURN YOUR PHONE