IMPORT BIKIN REPORT

IMPOR BIKIN REPORT
.
Sudah terlalu sering tersiar kabar baik lewat media massa, media sosial ataupun media online berita mengenai impor komoditas pertanian di tengah panen raya dan stock sedang melimpah ruah.

Kabar terakhir komoditas pertanian yang intensitas impor justru semakin naik di antaranya yang santer adalah garam, cabe, beras, dan beberapa komoditas pangan lainnya.

Realita yang menimbulkan tanya mengapa fenomena impor justru acap kali berbarengan dengan saat panen raya atau di saat produksi berlimpah. Kalau alasannya untuk industri, tidak harus impor yang jadi pilihan. Usaha pembinaan petani lokal dan penambahan titik titik industri untuk meningkatkan stock produksi juga merupakan solusi, hanya sayang tidak pernah dilakukan bahkan tidak masuk program sama sekali.

Kalau di telusuri profit dari impor tersebut bisa jadi
merupakan salah satu alasan. Tetapi capaian target yang di inginkan tidaklah sesederhana itu! Ada capaian target jangka panjang yang hendak di raih. bahkan jika diperlukan setelah impor terpaksa harus membuang berton-ton beras, garam, cabe dan komoditas lainnya ke lautpun bukanlah suatu masalah. Oleh karena itu harus di pahami target yang ingin dicapai bukan hanya profit import jangka pendek.

Analisa awal jika dicermati, maka akan nampak terlihat jelas akibat impor disaat panen raya dan stock melimpah dalam jangka pendek bagi petani atau produsen. Tentu harga jual komoditas di pasaran langsung menukik anjlok di bawah harga produksi. Petani atau produsen pada akhirnya merugi, rugi materi, rugi waktu, rugi tenaga dan pikiran. Sudah bisa dipastikan hasil yang di dapat lebih rendah dari pada modal yang dikeluarkan. Selain itu waktu yang terbuang, tenaga dan pikiran yang tercurah dari awal hingga panen menjadi kerugian tersendiri. Impor ketika melimpah.

Sudah terlalu sering tersiar kabar baik lewat media massa, media sosial ataupun media online berita mengenai impor komoditas pertanian di tengah panen raya dan stock sedang melimpah ruah. impor yang ganjil!.

Kabar terakhir komoditas pertanian yang intensitas impor justru semakin naik di antaranya yang santer adalah garam, cabe, beras, dan beberapa komoditas pangan lainnya.

Realita yang menimbulkan tanya mengapa fenomena impor justru acap kali berbarengan dengan saat panen raya atau di saat produksi berlimpah. Kalau alasannya untuk industri, tidak harus impor yang jadi pilihan. Usaha pembinaan petani lokal dan penambahan titik titik industri untuk meningkatkan stock produksi juga merupakan solusi, hanya sayang tidak pernah dilakukan bahkan tidak masuk program sama sekali.

Kalau di telusuri lebih jauh tentu mengejar profit dari impor tersebut bisa jadi
merupakan salah satu alasan. Tetapi capaian target yang di inginkan tidaklah sesederhana itu! Ada capaian target jangka panjang yang hendak di raih. bahkan jika diperlukan setelah impor terpaksa harus membuang berton-ton beras, garam, cabe dan komoditas lainnya ke lautpun bukanlah suatu masalah. Oleh karena itu harus di pahami target yang ingin dicapai bukan hanya profit import jangka pendek.

Analisa awal jika dicermati, maka akan nampak terlihat jelas akibat impor disaat panen raya dan stock melimpah dalam jangka pendek bagi petani atau produsen. Tentu harga jual komoditas di pasaran langsung menukik anjlok di bawah harga produksi. Petani atau produsen pada akhirnya merugi, rugi materi, rugi waktu, rugi tenaga dan pikiran. Sudah bisa dipastikan hasil yang di dapat lebih rendah dari pada modal yang dikeluarkan. Selain itu waktu yang terbuang, tenaga dan pikiran yang tercurah dari awal hingga panen menjadi kerugian tersendiri.

Dalam jangka panjang para petani atau produsen yang berkali-kali merugi, maka akan kapok dan memilih dengan suka hati memutuskan untuk berhenti menanam atau memproduksi. Itulah target capaian pertama, membuat para petani kapok jadi petani. berhenti berproduksi, meninggalkan lahan pertanian dan tidak bercocok tanam. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya mental berproduksi efeknya hilangnya karya karya anak negri.

Kemudian jika para petani atau produsen lokal sudah mengangkat tangan dan kapok menghentikan produksinya maka produk komoditas pangan lokal berangsur angsur menghilang dari pasaran. Masuklah serikat serikat asing dan membanjirlah produk produk asing dengan mudah dan memonopoli komoditas komoditas pertanian tersebut.

Tidak selesai sampai disitu,
Para petani karena tidak berproduksi, maka akankah meninggalkan lahan produksinya. Di aturlah cipta kondisi dan narasi "dari pada lahannya tidak terpakai dan mangkrak maka dijualah". berpindahlah kepemilikan lahan dari petani lokal ke tangan serikat asing beserta kaki tangannya.
.
Tidak selesai sampai situ, salah satu taktik strategi dalam memenangkan pertempuran yang sudah dipergunakan sejak zaman dahulu kala adalah "blokade logistik".

Contoh yang paling kongkrit terjadi di tanah Jawa adalah rencana penyerangan Sultan Agung Hanyokrokusumo ke Batavia menjadi berantakan karena lumbung lumbung padi sepanjang pantura lebih dahulu dibakar oleh VOC. Gagal karena urusan logistik.

Mencipta kondisikan suatu negara hingga tidak berdaulat atas pangan adalah taktik strategi blokade logistik. Jauhkan suatu negara dari swa sembada pangan serta tidak berdaulat atas pangan akan membuat lebih mudah mengatur dan menguasai kondisi negara dan wilayah tersebut.

Bisa dibayangkan jika pangan suatu negeri bergantung sepenuhnya dari luar, maka untuk mengatur, menekan dan menaklukkan negeri menjadi sangat mudah. Hentikan saja pasokan di kabupaten-kabupaten pangannya. Lumpuh total seketika.
.
Nusantara dengan wilayah yang signifikan baik dari segi luas maupun sumber pernahkan daya alamnya serta mayoritas penduduk negrinya beragama Islam, merupakan salah satu potensi bangkit kembalinya peradaban Islam menandingi imperialisme kapitalisme dan Komunis sosialis yang saat ini tengah diusung negara negara yang berkuasa.

Oleh karena itu bisa di analisa dengan seksama bahwa dua peradaban yang di usung oleh negara negara yang sedang berkuasa berusaha sejak dini untuk mengantisipasinya, dengan mengkondisikan agar negeri ini tak berdaulat atas pangannya sendiri. Jauhkan dari Swa sembada Pangan!
.
Caranya? Impor di saat panen raya! Impor disaat melimpah! Bikin harga komoditas jatuh! Bikin kapok petani kembali bertani!.

Karenanya, Masyarakat harus sadar, menyeru dan mengoreksi kebijakan penguasa agar segera menghentikan impor apalagi disaat panen raya, menghentikan import disaat stoc melimpah ruah. Penguasa beralihlah pada pembinaan para petani serta menambah titik titik produksi, untuk memenuhi kebutuhan industri maupun rakyat negri.

Dalam jangka panjang para petani atau produsen yang berkali-kali merugi, maka akan kapok dan memilih dengan suka hati memutuskan untuk berhenti menanam atau memproduksi. Itulah target capaian pertama, membuat para petani kapok jadi petani. berhenti berproduksi, meninggalkan lahan pertanian dan tidak bercocok tanam. Yang lebih berbahaya adalah hilangnya mental berproduksi efeknya hilangnya karya karya anak negri.

Kemudian jika para petani atau produsen lokal sudah mengangkat tangan dan kapok menghentikan produksinya maka produk komoditas pangan lokal berangsur angsur menghilang dari pasaran. Masuklah serikat serikat asing dan membanjirlah produk produk asing dengan mudah dan memonopoli komoditas komoditas pertanian tersebut.

Tidak selesai sampai disitu,
Para petani karena tidak berproduksi, maka akan meninggalkan lahan produksinya. Di aturlah cipta kondisi dan narasi "dari pada lahannya tidak terpakai dan mangkrak maka dijualah". berpindahlah kepemilikan lahan dari petani lokal ke tangan serikat asing beserta kaki tangannya.
.
Tidak selesai sampai situ, salah satu taktik strategi dalam memenangkan pertempuran yang sudah dipergunakan sejak zaman dahulu kala adalah "blokade logistik".

Contoh yang paling kongkrit terjadi di tanah Jawa adalah rencana penyerangan Sultan Agung Hanyokrokusumo ke Batavia menjadi berantakan karena lumbung lumbung padi sepanjang pantura lebih dahulu dibakar oleh VOC. Gagal karena urusan logistik.

Mencipta kondisikan suatu negara hingga tidak berdaulat atas pangan adalah taktik strategi blokade logistik. Jauhkan suatu negara dari swa sembada pangan serta tidak berdaulat atas pangan akan membuat lebih mudah mengatur dan menguasai kondisi negara dan wilayah tersebut.

Bisa dibayangkan jika pangan suatu negeri bergantung sepenuhnya dari luar, maka untuk mengatur, menekan dan menaklukkan negeri menjadi sangat mudah. Hentikan saja pasokan pangannya. Lumpuh total seketika.
.
Nusantara dengan wilayah yang signifikan baik dari segi luas maupun sumber daya alamnya serta mayoritas penduduk negrinya beragama Islam, merupakan salah satu potensi bangkit kembalinya peradaban Islam menandingi imperialisme kapitalisme dan Komunis sosialis yang saat ini tengah diusung negara negara yang berkuasa.

Oleh karena itu bisa dianalisa dengan seksama bahwa dua peradaban yang diusung oleh negara negara yang sedang berkuasa berusaha sejak dini untuk mengantisipasinya, dengan mengkondisikan agar negeri ini tak berdaulat atas pangannya sendiri. Jauhkan dari Swa sembada Pangan!
.
Caranya? Impor di saat panen raya! Impor disaat melimpah! Bikin harga komoditas jatuh! Bikin kapok petani kembali bertani!.

Karenanya, Masyarakat harus sadar, menyeru dan mengoreksi kebijakan penguasa agar segera menghentikan impor apalagi disaat panen raya, menghentikan import disaat stoc melimpah ruah. Penguasa beralihlah pada pembinaan para petani serta menambah titik titik produksi, untuk memenuhi kebutuhan industri maupun rakyat negri.

Para hartawan pecinta negeri ini, berkolaborasilah membeli hasil produksi petani dengan harga yang memadai untuk dibagikan pada penduduk negeri yang juga sedang menderita secara ekonomi. Semoga dengan tolong dan saling berbagi, Allah SWT menyelamatkan negri ini.

https://msha.ke/suaramuslim/ImportBikinRepot
OH HEY, FOR BEST VIEWING, YOU'LL NEED TO TURN YOUR PHONE